Pandangan Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Tentang Syi’ah

17 06 2012

Kalau menurut Wahabi: Syi’ah itu kafir. Bukan Islam. Lebih jahat dari Yahudi. Silahkan baca Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri Wahabi:

http://kabarislam.wordpress.com/2012/03/03/muhammad-bin-abdul-wahhab

Bahkan ada berita Fatwa Ulama Wahabi untuk membantai semua orang Syi’ah bukan hanya lelaki, tapi juga wanita dan anak-anak. Entah berita itu benar atau bohong, yang jelas memang ada kelompok yang sengaja membom Masjid kaum Syi’ah dan membantai orang Syi’ah dengan alasan mereka kafir:

Wilayah Syiah di Irak Dibom, 72 Tewas

http://www.batampos.co.id/index.php/2012/01/06/wilayah-syiah-di-irak-dibom-72-tewas/

Dua Kuil Syiah di Afganistan Dibom, 34 Tewas

Pelaku meledakkan diri di tengah perayaan hari Asyura yang dihadiri ratusan kaum Syiah.

http://dunia.vivanews.com/news/read/270034-dua-kuil-syiah-di-afganistan-dibom–34-tewas

Kalau menurut mayoritas Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, tidak semua Syi’ah itu sesat. Ada pula yg lurus. Di antara yg berpendapat begitu: Habib Rizieq Syihab, Yusuf Qaradhawi, Mufti Mesir Ali Jum’at, Syekh Al Azhar Tantawi, Din Syamsuddin, Hasyim Muzadi, Quraisy Syihab, Said Agil Siradj, dsb. Kalau kafir, tentu jemaah haji Syi’ah asal Iran tidak boleh berhaji ke Mekkah. Silahkan baca:

http://media-islam.or.id/2012/01/11/rekomendasi-mui-tentang-syiah/

Menurut Wahabi, Yahudi yg mengingkari Allah, mengingkari Al Qur’an, mengingkari bahkan berulangkali berusaha membunuh Nabi Muhammad jauh lebih baik daripada Syi’ah yang masih menyembah Allah, membaca Al Qur’an, dan Nabinya masih Nabi Muhammad. Imam Khomeini bahkan memfatwa mati Salman Rushdie yg menghina Al Qur’an sebagai Ayat Setan dan Nabi Muhammad sbg gila Sex. Jadi Wahabi itulah yg harus diwaspadai karena memecah belah Islam dari dalam:

http://kabarislam.wordpress.com/2011/12/31/ketika-as-dan-israel-menyerang-iran-anda-memihak-siapa/

Tidak semua Syi’ah itu benar. Tidak semua Syi’ah itu sesat. Dan tak semua tuduhan tentang Syi’ah itu benar. Misalnya tuduhan Tuhan Syi’ah itu Ali, Al Qur’an Syi’ah beda, dsb. Mungkin ada segelintir Syi’ah yg begitu. Tapi banyak Syi’ah yg tak begitu.

Mengenai Syi’ah, yg mencaci sahabat itu jelas kafir. Tapi tak semua Syi’ah begitu. Silahkan lihat pandangan Habib Rizieq Syihab ttg Syi’ah:

Pandangan FPI terhadap SYI’AH sebagai berikut :

FPI membagi Syi’ah dengan semua sektenya menjadi TIGA GOLONGAN ;

Pertama, SYI’AH GHULAT yaitu Syi’ah yang menuhankan/menabikan Ali ibn Abi Thalib RA atau meyakini Al-Qur’an sudah di-TAHRIF (dirubah/ditambah/dikurangi), dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari USHULUDDIN yang disepakati semua MADZHAB ISLAM. Syi’ah golongan ini adalah KAFIR dan wajib diperangi.

Kedua, SYI’AH RAFIDHOH yaitu Syi’ah yang tidak berkeyakinan seperti Ghulat, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar RA dan Umar RA atau terhadap para isteri Nabi SAW seperti ‘Aisyah RA dan Hafshah RA. Syi’ah golongan ini SESAT, wajib dilawan dan diluruskan.

Ketiga, SYI’AH MU’TADILAH yaitu Syi’ah yang tidak berkeyakinan Ghulat dan tidak bersikap Rafidhah, mereka hanya mengutamakan Ali RA di atas sahabat yang lain, dan lebih mengedapankan riwayat Ahlul Bait daripada riwayat yang lain, secara ZHOHIR mereka tetap menghormati para sahabat Nabi SAW, sedang BATHIN nya hanya Allah SWT Yang Maha Tahu, hanya saja mereka tidak segan-segan mengajukan kritik terhadap sejumlah sahabat secara ilmiah dan elegan. Syi’ah golongan inilah yang disebut oleh Prof. DR. Muhammad Sa’id Al-Buthi, Prof. DR. Yusuf Qardhawi, Prof. DR. Wahbah Az-Zuhaili, Mufti Mesir Syeikh Ali Jum’ah dan lainnya, sebagai salah satu Madzhab Islam yang diakui dan mesti dihormati. Syi’ah golongan ketiga ini mesti dihadapi dengan DA’WAH dan DIALOG bukan dimusuhi.

http://fpi.or.id/?p=detail&nid=98

Selain Habib Rizieq, banyak ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang tidak menganggap semua Syi’ah itu sesat apalagi kafir. Di antaranya seperti diberitakan VOA-Islam.com:

Rupanya, ada banyak tokoh yang mengklaim dirinya sebagai tokoh Islam yang membela paham sesat Syiah. Mulai dari Ketua MUI Umar Syihab, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, Ahmad Syafi’ie Ma’arif, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, dan sebagainya. Berikut Voa-Islam tampilkan pendapat mereka mengenai ajaran Syiah:

http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/01/04/17291/inilah-tokoh-para-pembela-paham-sesat-syiah/

Tapi pemberitaan itu kurang tepat. Mana ada ulama yang mau membela paham sesat. Yang benar mereka membela Syi’ah karena tidak menganggap semua Syi’ah itu sesat.

Di antara pernyataan Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tentang Syi’ah:

KH Umar Syihab (Ketua MUI):

Kata Umar, MUI tidak pernah menyatakan, bahwa Syiah itu sesat. Syiah dianggap salah satu mazhab yang benar, sama halnya dengan ahli sunnah wal jama’ah. Ajaran Syiah, kata Umar, sudah diakui di dunia islam sebagai mazhab yang benar sampai saat ini.

KH Said Agil Siradj (Ketua NU):

Menurut Said Aqil, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan. Ketua Umum PBNU itu meminta semua pihak bisa menahan diri dengan tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. “Pihak ketiga itu selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari,” katanya.

Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan, di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ”Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,” jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon.

Bahkan di Libanon Selatan, lanjut Said, Hizbullah dari kelompok Syiah didukung juga oleh kelompok Suni. Dikatakan Said, sepanjang sejarah, perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah sebenarnya, terkait soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah. “Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,” tegas kyai Siraj.

Said menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam.”

Ahmad Syafi’i Maarif (Mantan Ketua Muhammadiyyah):

Syiah telah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. Dia pun menyatakan bahwa setiap orang, sekalipun atheis berhak hidup. Terpenting, katanya, bisa hidup rukun dan toleran.

Prof Dr Din Syamsudin (Ketua Muhammadiyyah):

Pada Konferensi Persatuan Islam Sedunia yang berlangsung 4-6 Mei 2008 di Teheran, Iran, Din Syamsuddin pernah mengatakan, bahwa Sunni dan Syi’ah ada perbedaan, tapi hanya pada wilayah cabang (furu’yat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Menurut Din, Sunni dan Syi’ah berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, yakni Ali bin Abi Thalib.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga mengatakan, sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini (Sunni dan Syi’ah) bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Detikcom 5 Mei 2008)

Dikatakan Din, seandainya tidak dicapai titik temu, maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi. Seluruh elemen umat Islam dalam kemajemukannya perlu menemukan “kalimat sama” (kalimatun sawa) dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi. 

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan bahwa persatuan umat Islam khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syiah, adalah mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan Islam. Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut.

Patut kita ketahui bahwa NU dan Muhammadiyah adalah 2 ormas Islam terbesar di Indonesia. Sementara MUI (Majelis Ulama Indonesia) adalah perwakilan dari para ulama di seluruh Indonesia. Jika mereka menyatakan (sebagian) Syi’ah itu lurus, masih beranikah kita menyebut semua Syi’ah itu sesat bahkan kafir?

Prof Dr Quraisy Shihab bahkan membela Syi’ah dengan menulis buku “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?”. Cuma sebagaimana para ulama yang membela bahwa tidak semua Syi’ah itu sesat, Quraisy Shihab oleh kelompok Wahabi yang ekstrim difitnah sebagai Syi’ah. Begitu pula Said Agil Siradj. Saya pribadi sempat percaya mereka berdua Syi’ah, namun setelah saya sendiri dituduh sebagai Syi’ah Rafidhoh, baru saya paham kelakuan kelompok Salafi Wahabi. Oh begitu toh. Suka memfitnah/berdusta karena saya tahu diri saya sendiri bukan Syi’ah.

Kita lihat juga pandangan para Ulama Islam di seluruh dunia tentang Syi’ah. Pesan Amman (The Amman Message) menyatakan bahwa: 8 Mazhab Sunni, Syi’ah dan Ibadhi Islam; Paham Asy’ari, Sufi, dan Salafi sejati adalah Muslim yang sah. Dilarang mengkafirkan satu sama lain. Ada pun pemfatwaan kafir, harus dilakukan sesuai dengan aturan yang benar.

Siapa sih pendukung Pesan Aman atau Risalah Aman?

Ada 200 ulama dari 50 negara. Di antaranya:

Mesir:

H.E. Mr. Mohamed Hosni Mubarak, President
H.E. Grand Imam Prof. Dr. Muhammad Sayyid Tantawi, Shaykh al-Azhar
Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq, Menteri Agama

Prof. Dr. Ali Jumu‘a, Mufti Mesir
Prof. Dr. Ahmad Muhammad Al-Tayyib, Rektor Al Azhar

INDONESIA

Dr Muhammad Maftuh Basyuni, Menteri Agama
Dr. Tutty Alawiyah, Rektor Universitas Islam Asy Syafi’iyah

Shaykh Al-Hajj Ahmad Hashim Muzadi, Ketua NU

Vice-Chairman of the Central Board of Nahdlatul Ulama, Indonesia
Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, Ketua Muhammadiyah

QATAR

Prof. Dr. Shaykh Yusuf Al-Qaradawi, Director of the Sunna and Sira Council;
Shaykh Abd Al-Rahman bin Abd Allah bin Zayd Al Mahmud, Anggota Organisasi Konferensi Islam
Shaykh Mohammad Haj Yusuf Ahmad, Imam, Doha Mosque

KERAJAAN SAUDI ARABIA

H.M. King Abdullah bin Abdel Aziz Al Saud,  Raja Arab Saudi, King of Saudi Arabia; Custodian of the Two Holy Mosques
Dr. Abd Al-Aziz bin Uthman Al-Touaijiri, Dirjen Pendidikan Islam (The Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO)
H.E. Shaykh Abd Allah Sulayman bin Mani, Anggota Majelis Ulama Saudi Arabia
Dr. Hassan bin Mohamed Safar, Professor, Islamic Studies Department, Faculty of Humanities
Dr. Muhammad Jabr Al-Alfi, Professor, Higher Judiciary Institute, Department
of Comparative Jurisprudence, Riyadh
Shaykh al-Habib Muhammad bin Abdurrahman al-Saqqaf

Banyak juga dari negara-negara lain yang tidak saya kenal meski posisi mereka sangat tinggi. Selengkapnya bisa dilihat di:

http://ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=31

Ada juga Fatwa Ulama Sunni tentang Kerukunan antar Ummat Islam ini:

http://ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=82&Itemid=60

A. Sunni Fatwas

  1. H.E. Grand Imam Dr. Muhammad Sayyid Tantawi, Shaykh Al-Azhar
  2. Professor. Dr. Ali Jumu’a, Grand Mufti of the Egyptian Arab Republic
  3. The Grand Council for Religious Affairs, Turkey
  4. The late Grand Shaykh Ahmad Kuftaro, Grand Mufti of the Syrian Arab Republic, May Allah have mercy upon him
  5. Shaykh Said Abd Al-Hafiz Al-Hijjawi, Grand Mufti of the Hashemite Kingdom of Jordan
  6. The Islamic Fiqh Academy, Jeddah, Kingdom of Saudi Arabia
  7. Shaykh Dr. Yusuf Abdallah Al-Qaradawi, Director of the Sunna and Sira Council, Qatar
  8. H.E. Shaykh Abdullah bin Bayyah, Vice President of the International Union of Muslim Scholars, Saudi Arabia
  9. Mufti Muhammad Taqi Uthmani, Pakistan
  10. Shaykh Abdullah al-Harari al-Habashi, Lebanon

Sekilas tentang Pesan Amman:

http://ammanmessage.com

Basmallah

THE AMMAN MESSAGE

”The best resource for those who wish to travel along the straight path in their words and their actions, and in their spiritual and religious life’.

— The Grand Shaykh of the Azhar, Shaykh Mohammed Sayyid Tantawi (may God have mercy on him), 2006.

The Amman Message started as a detailed statement released the eve of the 27th of Ramadan 1425 AH / 9th November 2004 CE by H.M. King Abdullah II bin Al-Hussein in Amman, Jordan. It sought to declare what Islam is and what it is not, and what actions represent it and what actions do not. Its goal was to clarify to the modern world the true nature of Islam and the nature of true Islam.

In order to give this statement more religious authority, H.M. King Abdullah II then sent the following three questions to 24 of the most senior religious scholars from all around the world representing all the branches and schools of Islam: (1) Who is a Muslim? (2) Is it permissible to declare someone an apostate (takfir)? (3) Who has the right to undertake issuing fatwas (legal rulings)?

Based on the fatwas provided by these great scholars (who included the Shaykh Al-Azhar; Ayatollah Sistani and Sheikh Qaradawi), in July 2005 CE, H.M. King Abdullah II convened an international Islamic conference of 200 of the world’s leading Islamic scholars ‘Ulama) from 50 countries. In Amman, the scholars unanimously issued a ruling on three fundamental issues (which became known as the ‘Three Points of the Amman Message’):

They specifically recognized the validity of all 8 Mathhabs (legal schools) ofSunni, Shi’a and Ibadhi Islam; of traditional Islamic Theology (Ash’arism); of Islamic Mysticism (Sufism), and of true Salafi thought, and came to a precise definition of who is a Muslim.
Based upon this definition they forbade takfir (declarations of apostasy) between Muslims.
Based upon the Mathahib they set forth the subjective and objective preconditions for the issuing of fatwas, thereby exposing ignorant and illegitimate edicts in the name of Islam.
These Three Points were then unanimously adopted by the Islamic World’s political and temporal leaderships at the Organization of the Islamic Conference summit at Mecca in December 2005. And over a period of one year from July 2005 to July 2006, the Three Points were also unanimously adopted by six other international Islamic scholarly assemblies, culminating with the International Islamic Fiqh Academy of Jeddah, in July 2006. In total, over 500 leading Muslim scholars worldwide—as can be seen on this website [click here to see the entire list]—unanimously endorsed the Amman Message and its Three Points.

This amounts to a historical, universal and unanimous religious and political consensus (ijma’) of the Ummah (nation) of Islam in our day, and a consolidation of traditional, orthodox Islam. The significance of this is: (1) that it is the first time in over a thousand years that the Ummah has formally and specifically come to such a pluralistic mutual inter-recognition; and (2) that such a recognition is religiously legally binding on Muslims since the Prophet (may peace and blessings be upon him) said: My Ummah will not agree upon an error (Ibn Majah, Sunan, Kitab al-Fitan, Hadith no.4085).

This is good news not only for Muslims, for whom it provides a basis for unity and a solution to infighting, but also for non-Muslims. For the safeguarding of the legal methodologies of Islam (the Mathahib) necessarily means inherently preserving traditional Islam’s internal ‘checks and balances’. It thus assures balanced Islamic solutions for essential issues like human rights; women’s rights; freedom of religion; legitimate jihad; good citizenship of Muslims in non-Muslim countries, and just and democratic government. It also exposes the illegitimate opinions of radical fundamentalists and terrorists from the point of view of true Islam. As George Yeo, the Foreign Minister of Singapore, declared in the 60th Session of the U.N. General Assembly (about the Amman Message): “Without this clarification, the war against terrorism would be much harder to fight.”

Finally, whilst this by the Grace of God is a historical achievement, it will clearly remain only principial unless it is put into practice everywhere. For this reason, H.M. King Abdullah II is now seeking to implement it, God willing, through various pragmatic measures, including (1) inter-Islamic treaties; (2) national and international legislation using the Three Points of the Amman Message to define Islam and forbid takfir; (3) the use of publishing and the multi-media in all their aspects to spread the Amman Message; (4) instituting the teaching of the Amman Message in school curricula and university courses worldwide; and (5) making it part of the training of mosque Imams and making it included in their sermons.

God says in the Holy Qur’an says:

There is no good in much of their secret conferences save (in) whosoever enjoineth charity and fairness and peace-making among the people and whoso doeth that, seeking the good pleasure of God, We shall bestow on him a vast reward. (Al-Nisa, 4:114).

===

Ada banyak tuduhan terhadap Syi’ah ternyata setelah Tabayyun sesuai surat Al Hujuraat ayat 6 agar kita tak menzalimi orang yang tidak berdosa, ternyata hanya fitnah.

Contohnya video/gambar yang dijadikan “bukti” bahwa Syi’ah punya Ka’bah sendiri. Ternyata itu cuma manasik Haji di mana di Asrama Haji Pondok Gede atau pun di Istiqlal kita juga sering menemukan orang melakukan manasik Haji dengan Ka’bah bohongan. Buktinya Jema’ah Syi’ah Iran yang berhaji ke Mekkah 50 ribu orang lebih per tahunnya. Melampaui quota.

Begitu pula tuduhan Tuhan Syi’ah adalah Ali atau Fatimah, Syi’ah punya Al Qur’an sendiri yaitu Mushaf Fatimah, ternyata itu semua hanya fitnah. Terbukti MUI tidak menemukan kesesatan fatal macam itu dan hanya menemukan beberapa perbedaan seperti masalah Imamah (Kepemimpinan):

http://media-islam.or.id/2012/01/11/rekomendasi-mui-tentang-syiah/

Orang-orang yang mengaku Ahli Syi’ah, ternyata tidak melakukan tabayyun terhadap kaum Syi’ah secara representatif. Kebanyakan cuma menukil/copy paste dari “Ahli Syi’ah” lainnya yang umumnya anti Syi’ah seperti Wahabi.

Said Agil Siradj menyatakan saat belajar di Universitas Umm Al Quro di Arab Saudi, Syi’ah tidak dipandang sesat meski itu Universitas Wahabi:

“Di universitas Islam mana pun tidak ada yang menggap Syiah sesat,” katanya dikutip websiteTempoJumat (27/01/2012). Said merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya Universitas Umm Al Quro di Arab Saudi. “Wahabi yang keras saja menggolongkan Syiah bukan sesat,” ujarnya.

http://hidayatullah.com/read/20860/27/01/2012/said-aqil-sebut-syiah-tidak-sesat.html

Ini sesuai dengan pengalaman saya pribadi saat belajar di SD Negeri tahun 1975 di mana buku Agama terbitan Depag (Menag dari NU) menyatakan saat Mu’awiyah berontak terhadap Khalifah Ali, Islam terpecah 3: Sunni, Syi’ah, dan Khawarij. Sunni dan Syi’ah dipandang masih Islam. Sementara Khawarij keluar dari Islam/Sesat.

Cuma sepertinya paham Wahabi yang ekstrim yang datang di tahun 1980-an di bawah bimbingan Bin Baz, Albani, Muqbil, dsb akhirnya menyatakan Syi’ah itu sesat atau kafir. Oleh karenanya yang belajar Islam belakangan, pandangannya lebih ekstrim.

Pada saat AS dan Israel di ambang perang dengan Iran, tiba-tiba berbagai website pro Wahabi gencar mengkafirkan Muslim Syi’ah yang merupakan mayoritas Iran. Banyak orang-orang awam yang mengcopy-paste-nya sebagai kebenaran.

Demikianlah pendapat para Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tentang Syi’ah. Cuma sebagai Muslim di Indonesia, sebaiknya kita tidak berpaham Syi’ah atau pun Wahabi. Lebih baik kita mengikut Mazhab Imam Syafi’ie sehingga belajar dan ibadahnya juga lebi mudah dan nyaman.

***


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: